“material terbarukan, aman bagi kesehatan dan lingkungan”

“Merencanakan dengan baik an dikerjakan sendiri, akan membuat saya merasa puas dan potensi diri menjadi maksimal”

     Kesibukan yang sangat padat tak membuat Amy Devers desainer asal Michigan, USA - ini berhenti berkarya. Wanita cantik ini memiliki tiga gelar sarjana, yang diperolehnya dari berbagai negara bagian di USA. Gelar pertamanya adalah AAS di bidang Pembelian dan Merchandising Busana dari SUNY – Fashion Institute of Technology di New York. Gelar berikutnya diperoleh dari pantai barat Amerika, berupa Bachelor of Art bidang Desain Furniture dari San Diego State University. Selanjutnya, ia menuju pantai timur dan menyelesaikan MFA Desain Furniture di sekolah desain Rhode Island.
 
      Amy dikenal memiliki berbagai keahlian. Selain trampil merenovasi rumah dan lansekap, ia pun mahir memahat dan membuat mebel dari berbagai bahan alternatif, yang menjadikan tampilan mebel tampak unik dan orisinil. Mebel pertama buatannya adalah sebuah credenza berbahan walnut, sejenis hardwood Amerika. Inilah yang membuatnya hadir di Jakarta pada 6 Desember 2011 atas undangan American Hardwood Export Council (AHEC), selaku pembicara pada pembukaan Indonesia Furniture Design Competition (IFDC) yang ketiga.
 
Saat ini, Amy sedang berupaya mendapatkan akreditasi LEED untuk Amy Devers Art/Design – sebuah studio desain di Los Angeles yang dikelolanya. Selain itu, ia juga sibuk sebagai pembawa acara Do It You Self (DIY) di sebuah stasiun televisi dan menulis buku tentang desain. Acara DIY, merupakan sebuah program yang bertujuan untuk menginspirasi masyarakat tentang cara merenovasi sebuah hunian dengan biaya relatif terjangkau, namun mampu memberi nilai tambah pada harga jual bangunan tersebut. “Saya gemar menggunakan kayu, karena lebih ekonomis dan tidak memiliki kandungan berupa bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, kayu Amerika berasaldari hutan lestari, sehingga merupakan sumber daya alam terbarukan. Dengan menggunakan hardwood, kita turut berperan melestarikan lingkungan, karena mengurangi penggunaan material tak terbarukan yang proses pembuatannya menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan seperti semen dan logam,“ jelas Amy.