Sentuhan Cina Di Rumah Mungil
- Kategori Induk: ARSITEKTUR & DESIGN
- Diperbarui: Senin, 26 Oktober 2015 08:53
- Ditayangkan: Senin, 30 Maret 2009 16:28
- Ditulis oleh admin1
- Dilihat: 8411
- 30 Mar
Kemajuan teknologi informasi, berpengaruh pada perkembangan desain, dengan seolah-olah hilangnya batas antar negara. Cina sebagai salah satu negara terbesar dari jaman dulupun sering menjadi inspirasi pada desain interior. Demikian pula yang coba diterapkan oleh desainer interior Christianto Roesli dan Budi Setiawan saat diminta oleh sahabatnya untuk mendesain interior rumah tinggalnya. Sentuhan Cina ( Chinoiserie) dipilih sebagai tema interiornya. Besaran hunian yang relatif sempit dan “standar” bentukan ruang sebuah perumahan, berhasil tampil beda. Terletak di daerah Alam Sutera, Tangerang, Hendra sang pemilik rumah mempercayakan desain sepenuhnya pada sang desainer interior.
Hunian seluas ±100 m2 di renovasi khusus bagian ruang dalamnya. Tanpa merubah secara significant pada bentukan ruang, beberapa ruang utama tetap dipertahankan. Demikian pula pada tampak bangunan, yang sengaja dibiarkan sesuai dengan aslinya. Renovasi interior dilakukan pada sebagian penutup lantai. Dari yang semula menggunakan keramik ukuran 30x30 cm, diganti dengan parket laminated. Selain itu juga dilakukan pengecatan ulang sesuai dengan konsep interiornya. Dan yang terpenting adalah, penggunaan elemen-elemen interior seperti furnitur dan aksesoris yang memberi karakter ruang secara keseluruhan.
Gaya Chinoiserie yang cenderung feminin dielaborasi dengan padanan tone warna yang kuat. Kali ini Andre, demikian sapaan Christianto Roesli, memilih warna cokelat dan biru. Sebuah paduan warna yang jarang menjadi pemikiran banyak orang. Corak fabric pada upholstery sofa di ruang duduk menggunakan bahan jeans, demi mendapatkan warna biru sesuai yang diharapkan. Guratan tekstur khas bahan jeans menjadi aksen menarik pada perangkat furniturnya.
Keterbatasan ruang di rumah ini ditanggapi dengan pemilihan furnitur yang bersifat kompak dan multifungsi. Hal ini sekaligus untuk mengakomodir kebutuhan saat banyak tamu bertandang. Maklum, rumah Hendra menjadi tempat favorit bagi teman-temannya untuk berkumpul. Sofa bed dan puff dipilih sebagai furnitur yang multifungsi di living room. Dua buah puff yang diletakkan bersisian, berfungsi sebagai meja sekaligus tempat duduk. Fabric puff yang bercorak retro pun menjadi aksen menarik saat disandingkan dengan bahan jeans pada sofa.
Untuk mendukung sentuhan Chinoiserie, persis sesudah pintu masuk utama, ditempatkan tirai yang
terbuat dari jalinan benang berwarna biru. Penggunaan tirai ini sejatinya berfungsi sebagai partisi, untuk menghindari kontak langsung antara pintu masuk dengan ruang dalam. Ide tirai ini sangat sesuai sebagai pembatas untuk ruang-ruang dengan luas terbatas. Dengan tampilan yang transparan, interaksi antara “foyer” dan ruang dalam tetap dapat terjalin.
Berlanjut ke ruang makan yang terletak menyatu dengan living room, ditempatkan
seperangkat meja makan berdesain simpel. Top table kaca hitam dipadu dengan material stainless steel pada kakinya, memberi tampilan modern dan ringan pada meja makan. Di sini digunakan dua buah kursi kayu dengan desain sederhana, dipadu dengan bangku kayu panjang. Idenya berasal dari bangku warung makan, sehingga memberi kesan santai dan non formal.
Bersisian dengan meja makan, terdapat dapur yang didesain membentuk huruf L. Dapur dilengkapi kabinet dengan komposisi yang apik antara lemari dan rak. Mengingat besaran ruang yang tidak luas. bentukan kabinet sengaja tidak dibuat penuh ke atas plafon, untuk menghindari kesan sesak dan penuh ruangan. 
Nuansa dapur kental dengan warna cokelat dan turunannya. Panel multiplek digunakan untuk menutup sebagian dinding dapur, yang dipadu dengan mozaik warna cokelat keemasan pada bagian bawahnya. Penempatan panel multiplek yang dilapis HPL merupakan solusi sederhana untuk menekan biaya. Juga dengan penggunaan rak-rak terbuka pada kabinet dapur. Selain untuk menghindari kesan sesak dan penuh, desain rak terbuka sekaligus bertujuan untuk menghindari membengkaknya biaya.
Kabinet dapur pun didesain secara kompak dan multifungsi. Bagian lain dari dapur, kabinetnya didesain sebagai tempat penyimpanan mesin cuci dan aneka perkakas. Salah satu pintu kabinet bisa dibuka-tutup dan berfungsi sebagai meja seterika. 
Selanjutnya, kesan lain yang tak kalah penting adalah aksesori. Untuk memperkuat kesan gaya Chinoiserie, dipasang piring porselen pada dinding di ruang makan. Piring porselen khas Cina ditempatkan di atas bidang tatakan berwarna cokelat. Tampak kontras dengan background warna biru pada dindingnya. Tampilannya simpel, namun terlihat menarik. Selain itu terdapat juga beberapa lukisan rumah Pecinan dalam tampilan black and white. Kesemuanya saling mendukung, membentuk karakter sesuai yang diharapkan.
Pada masa ekplorasi benua baru, Cina sering dianggap sebagai negara yang sangat eksotik, lewat produksi sutra dan porcelain yang sangat halus buatannya. Sampai masa kinipun, touch Chinese ( Chinoiserie) menjadi daya tarik tersendiri, yang dapat juga menjadi
alternatif tema yang dapat dipakai pada interior.
Sentuhan China dapat diterapkan pada elemen interior, misalnya dinding, lantai, dan aksesoris. Selain itu, suasana Cina dapat juga dibangun dari permainan warna, tekstur bahan. Warna merah misalnya, yang hampir identik dengan warna Cina.
Chinoiserie dapat dipakai juga pada interior modern, misalnya pada kamar tidur. Walaupun headboard (kepala tempat tidur) terlihat modern, namun sebagai latarnya (back wall) bisa digunakan wallpaper bermotif Chinese. Untuk melengkapinya, ditempatkan side table berbentuk meja Cina. Terlihat sangat eksotik.
Jangan takut bereksperimen agar sentuhan Cina dapat terasa. Selamat bereksperimen.



















