Booming Lokasi Emas di Tahun Kerbau
- Kategori Induk: PROPERTY & REFERENSI BISNIS
- Diperbarui: Senin, 26 Oktober 2015 08:53
- Ditayangkan: Senin, 30 Maret 2009 19:17
- Ditulis oleh admin1
- Dilihat: 5438
- 30 Mar
Kondisi krisis maupun tidak, permintaan terhadap properti tanah air terus meningkat. Lokasi dengan aksesebilitas terbaik masih jadi pilihan.Menjelajahi perjalanan bisnis properti tanah air dari tiap tahun, penuh dinamika. Ada yang kembang kempis mempertahankan posisinya di pasar, namun banyak pula yang tergerus oleh kerasnya persaingan alias tumbang. Pengamat properti Panangian Simanungkalit memprediksi investasi properti masih aman pada 2009. Masih menurut Panangian, pasar properti di Indonesia masih bisa dikembangkan ke arah yang lebih baik lagi. Sebab, dengan jumlah penduduk yang cukup besar, kebutuhan akan perumahan atau papan tentu juga semakin meningkat. “Prospek properti tahun 2009 masih sangat bagus. Pengembang juga di tuntut untuk terus berinovasi di tengah kelesuan karena masih banyak celah pasar yang belum tergarap. Untuk potensi kawasan, harus dicermati dengan baik agar konsumen tidak terjebak oleh iming-iming tadi,” kata Juan Panca, General Manager Daan Mogot Baru.
Ditambahkan Juan, masih banyak peluang untuk mendapatkan hunian terbaik di lokasi terbaik dimanapun. Namun yang harus diperhatikan semua aspek seperti track record pengembangnya, potensi investasi ke depan dan potensi kawasannya.
Di tempat terpisah, Ali Tranghanda, seorang pengamat properti mengatakan, anjloknya penjualan perumahan kelas menengah menyusul kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) diharapkan bisa berakhir paling lambat semester pertama 2009. Pemulihan pasar properti bakal lebih cepat terjadi apabila Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) dan pemerintah menjamin seluruh simpanan nasabah dan pinjaman antarbank untuk mengendurkan tekanan likuiditas.
Masih menurut Ali, setiap kenaikan suku bunga sebesar 1%, pangsa pasar properti akan turun sebesar 4-5%. Dengan demikian penjualan properti setelah kenaikan suku bunga KPR akan turun hingga kisaran 40%-50%. Kondisi ini diperkirakan akan pulih setelah triwulan pertama 2009. “Pulihnya penjualan properti turut ditentukan oleh bagaimana rencana-rencana proyek baru tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Pengembang harus memiliki strategi harga yang akurat, terutama
untuk menjaga kemungkinan tidak turunnya BI Rate,” katanya.Berdasarkan data dari Procon Indah, pada kwartal pertama tahun 2008 saja, peluncuran cluster-cluster baru yang sudah dibangun di kawasan Jabodetabek meningkat sebesar 0,4 persen menjadi 15.307 hektare. Untuk penawaran unit baru, kwartal pertama tersedia pasokan sebesar 6610 unit. Sehingga total yang ditawarkan di Jabodetabek menjadi 334.607 atau naik hanya 2 persen. Tingkat penjualan hunian di kawasan Jabodetabek sendiri masih tetap stabil dikarenakan adanya tawaran unit-unit baru tadi.
Dari sisi konsumen, ketelitian membawa perubahan pandangan pada kawasan yang dahulu belum pernah mereka sentuh sama sekali. Konsumen sudah mulai jeli melihat daerah mana yang akan berkembang dengan pesat dan mana yang masih membutuhkan waktu. Pertimbangannya hanyalah nilai investasi masa depan yang akan dinikmati. Tapi yang ada di depan mata saat ini selain harga dan kelengkapan fasilitas kawasan, adalah akses untuk mencapai lokasi dengan mudah. Dengan pertimbangan tadi, pengembang mulai membenahi kawasannya.
Sasaran tembak dari konsumen dalam mencari lokasi terbaik untuk dijadikan tempat tinggal masih seputar Bogor, Depok, Tangerang, Cibubur-Cileungsi dan Bekasi. Alasannya, di kawasan berkembang seperti itulah potensi dan prospek investasi ke depan sudah pasti didapat. Hanya saja konsumen dituntut untuk lebih jeli saat memilih lokasi hunian terbaik di ladang emas. Pasalnya, pengembang menawarkan hunian tematik. Ada yang punya konsep religi, resort atau mengangkat tema daerah tertentu. Keuntungannya, harga tanah akan terus merangkak naik seiring pertumbuhan kawasan.
Kedua, mereka masih bisa mendapatkan lokasi proyek yang terbaik dan mudah di akses. Ambil contoh Kota Depok, Jawa Barat. Wajah kota Depok telah berubah total dibanding 10 tahun lalu. Masuknya beberapa investor kelas kakap diikuti oleh perbaikan sarana infrastruktur kota yang terus dibenahi oleh pemerintah kota Depok. Kini Depok sudah terkepung dengan proyek perumahan hingga ke pusat bisnis. Depok dipilih sebagai pilihan hunian karena memiliki area yang luas. Daerah pinggir kota yang memiliki alam masih asri banyak dilirik, seperti kawasan Sawangan, Cilodong, Citayam, hingga Cibubur.
Harga tanah untuk hunian, masih berkisar Rp 800 ribu per meter persegi hingga Rp 1,5 juta permeter perseginya. Sedangkan untuk di pusat kota seperti sepanjang jalan Margonda, harga tanah yang tercatat sudah mencapai Rp 4 juta per meter perseginya. Harga jual hunian memang bervariasi, tergantung dari segmentasinya.
Yang pasti masih ada range terendah Rp100 juta untuk anda miliki. Begitu pula dengan Cibubur-Cileungsi. Pesatnya pertumbuhan Kota Depok merambat pada kawasan ini. Tak seperti 10 tahun lalu, sepadan jalur Trans Yogi hingga kearah Jonggol sudah padat dengan perumahan kelas atas. Perumahan yang berlokasi di kawasan tersebut menghadapi persaingan yang cukup ketat.Uniknya, tak hanya segmen atas saja yang tumbuh, namun segmen menengah bawahnya juga berkembang.
Bekasi yang identik dengan kawasan industri pun mampu menyediakan pasokan unit baru. Yang paling banyak terserap di Bekasi adalah hunian untuk segmen menengah bawah dengan kisaran Rp80 juta hingga tertinggi hanya Rp300 juta.
Permintaan unit tersebut dikarenakan permintaan rumah pekerja di sana. Pemda Bekasi sendiri sudah membagi kawasan yang dikhususkan untuk industri dan hunian. Sehingga penataan kota Bekasi menjadi lebih baik.
Tahun 2009, perburuan investor terus berlanjut. Lokasi hunuan yang dijadikan ladang investasi oleh konsumen properti masih terus diburu. Tinggal bagaimana pengembang dimasing-masing kawasan mampu memberikan yang terbaik dari sisi harga. Lokasi dan kepemilikan yang semakin mudah.
Bila hal tersebut terpenuhi, investor tidak akan pusing-pusing untuk membeli unit yang ditawarkan, meski pilihannya menjadi yang kedua.



















