Bidik Rumah RP 200 JUTAAN

Menjelajahi perjalanan bisnis properti tanah air dari tahun ke tahun
penuh dinamika. Ada yang kembang kempis mempertahankan
posisinya di pasar, namun banyak pula yang tergerus oleh kerasnya
persaingan.
   Pengamat properti Panangian Simanungkalit memprediksi investasi
properti masih aman pada 2010. Pasar properti di Indonesia menurutnya
masih bisa dikembangkan ke arah yang lebih baik lagi. Pasalnya, jumlah
penduduk yang besar akan meningkatkan kebutuhan akan papan yang
terus menguat. “Prospek properti tahun 2010 akan booming. Pengembang
harus terus berinovasi karena masih banyak celah pasar yang belum
tergarap. 

Potensi kawasan misalnya, harus dicermati dengan baik agar
konsumen tidak terjebak oleh iming-iming kosong,” kata Panangian yang
juga Direktur Pusat Studi Properti Indonesia ini.
    Peluang untuk mendapatkan hunian di lokasi terbaik masih sangat
banyak. “Namun, tetap harus memperhatikan beberapa aspek. Mulai
dari track record pengembang, hingga potensi investasi serta kawasan,”
katanya.
     Hal yang sama juga disampaikan oleh Ali Tranghanda. Praktisi properti ini
mengatakan, penjualan perumahan kelas menengah akan pulih menyusul

menurunnya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) belakangan,
sehingga akselerasi pasar properti dimungkinkan akan menjulang.
“Pulihnya penjualan properti turut ditentukan oleh bagaimana rencanarencana
proyek baru tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Jadi, pengembang harus memiliki strategi harga yang akurat,” katanya.
Tingkat Penjuaan Stabil
    Adapun optimisme terhadap sektor properti ditunjukkan oleh data dari
Procom Indah. Pada kuartal pertama tahun 2008 lalu peluncuran clustercluster
baru yang sudah dibangun di kawasan Jabodetabek, meningkat
hingga 0,4 persen menjadi 15.307 hektare. Sedangkan untuk penawaran
unit baru, tersedia pasokan sebesar 6610 unit. Sehingga total yang
ditawarkan di Jabodetabek menjadi 334.607 atau naik 2 persen. Dengan
demikian, tingkat penjualan hunian di kawasan Jabodetabek masih tetap
stabil karena adanya tawaran unit-unit baru tersebut.
    Sedangkan dari sisi konsumen, ketelitian mereka membawa perubahan
pandangan pada kawasan yang dahulu belum pernah mereka sentuh
sama sekali. Dan konsumen pun sudah mulai jeli melihat, mana daerah

yang akan berkembang dengan pesat dan
mana daerah yang masih membutuhkan waktu.
Pertimbangannya tidak hanya nilai investasi
masa depan yang akan dinikmati. Namun,
selain harga dan kelengkapan fasilitas kawasan,
akses untuk mencapai lokasi dengan mudah
juga diperhitungkan. Dengan pertimbangan
tersebut pengembang pun mulai membenahi
kawasannya.
Masih di kawasan Berkembang
    Sasaran terbaik dari konsumen untuk mencari
lokasi terbaik sebagai tempat tinggal masih
seputaran Bogor, Depok, Tangerang, Cibubur
Cileungsi dan Bekasi. Alasannya, di kawasan

berkembang itulah potensi dan prospek investasi
ke depan sudah pasti di dapat.
    Kemudian dari sisi harga umumnya tergolong
wajar. Mau yang Rp200 jutaan juga ada. Hanya
saja konsumen dituntut untuk lebih jeli saat
memilih lokasi hunian terbaik di ladang emas.
Pasalnya banyak pengembang menawarkan
hunian tematik. Mulai dari yang berkonsep
religi, taman hingga resort. Keuntungan lainnya
adalah harga tanah terus merangkak naik seiring
pertumbuhan kawasan. Selain itu, mereka masih
bisa mendapatkan lokasi proyek yang terbaik dan
mudah diakses.
    Ambil contoh, Depok Jawa Barat. Wajah kota
Depok telah berubah total dibanding 10 tahun
lalu. Masuknya beberapa investor kelas kakap,
diikuti oleh perbaikan sarana infrastruktur kota
yang terus dibenahi oleh pemerintah kota Depok.
Kini Depok sudah terkepung dengan proyekproyek
perumahan hingga ke pusat bisnis. Depok
diambil sebagai pilihan hunian karena areanya
yang luas. Lokasi untuk proyek hunian di Depok
lebih banyak berada di pinggir kota, karena
kondisi alamnya masih asri dan hijau. Tengok saja
di kawasan Sawangan dan Cilodong, atau ke arah
selatan di Citayam hingga Cibubur.

    Harga tanah untuk hunian di sini masih
berkisar Rp700 ribu per meter perseginya

Sedangkan untuk di pusat kota seperti sepanjang
jalan Margonda, harga tanah yang tercatat sudah
mencapai Rp4 juta per meter perseginya. Harga
jual hunian memang bervariasi, tergantung
dari segmentasinya. Yang pasti masih ada range
terendah Rp 100 juta untuk dimiliki.
    Pengembang segmen menengah bawah
meski terkena imbas krisis, mereka tetap melesat
dengan bermain pada kisaran harga Rp 80 juta
- Rp 300 juta. Didukung bunga KPR yang telah
mengalami penurunan -meski tak banyak-, hal
ini mampu meningkatkan hasrat konsumen
berburu properti.
    Mencari rumah dengan kisaran harga tadi,
mudah Anda temukan di kawasan yang sedang
berkembang seperti di pinggir Jakarta. Di sana
pasokan unit baru terus dibangun dan akan terus
bertambah. Lihat aksi borong unit yang dilakukan
oleh konsumen mulai pertengahan tahun
2008 lalu. Tipe unit yang paling laku menurut
pandangan konsumen adalah tipe 36-45. Aksi
yang dilakukan konsumen sebagai antisipasi
ketidakpastian perbaikan bunga kredit pada
pertengahan tahun 2009.
    Fenomena ini tak lain karena adanya tawaran
menarik bagi konsumen. Pengembang berani
memberikan subsidi bunga dan cash back yang
sangat menggiurkan. Hampir seluruh proyek
perumahan menengah di kawasan Depok Bekasi,
Tangerang berani memberikan subsidi bunga
hingga 4% -5% pada tahun 2008 lalu. Belum
lagi cash back yang akan diterima konsumen
saat membeli dengan hard cash. Ada pula yang
menjanjikan pengembalian uang muka bila
konsumen tidak memperoleh KPR.
     Nah, sek arang t inggal bagaimana
pengembang pada masing-masing kawasan
mampu memberikan yang terbaik dari sisi harga.
Bila hal tersebut terpenuhi, investor tidak akan
pusing untuk membeli unit yang ditawarkan
meski pilihannya menjadi yang kedua.