23 Semarang: “Jewel of Paradise” yang Tumbuh sebagai Ruang Publik Kota
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Selasa, 14 April 2026 14:56
- Ditayangkan: Selasa, 14 April 2026 00:46
- Ditulis oleh adminrumahku
- Dilihat: 91
- 14 Apr
Ada sesuatu yang berubah dari kota Semarang. Kota ini bukan sekadar tumbuh—ia sedang bergeser. Jalanan semakin ramai, sudut kota makin hidup, dan geliat ekonomi kian terasa di ruang publik.
Pergeseran ekonomi ini tidak hanya terpusat di satu titik. Kota Lama Semarang kini makin hidup dengan hadirnya deretan kafe dan restoran yang bersanding harmonis dengan arsitektur kolonial yang ikonik, menjadikannya daya tarik wisata sekaligus ruang sosial yang aktif. Di sisi lain, pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan modern terus bermunculan, membentuk lanskap urban yang kian progresif.
Memecah Kepadatan, Memperluas Magnet Kota
Di tengah ritme kota yang kian cepat, masyarakat urban mulai mencari lebih dari sekadar ruang belanja. Mereka mendambakan sebuah destinasi gaya hidup yang mampu mewadahi dinamika kerja, interaksi dan kebutuhan beristirahat. Sebuah ruang yang tidak hanya fungsional dan estetis, namun juga menciptakan pengalaman perkotaan yang utuh.

Akses jalan menuju 23 Semarang dirancang lebar, teduh dan tertata rapi, dinaungi pepohonan yang menciptakan koridor hijau. (Foto : Susi W)
Selama beberapa dekade, pusat keramaian Semarang seolah "terkunci" di kawasan Simpang Lima dan Jalan Pemuda. Kehadiran 23 Semarang, pusat perbelanjaan yang dikembangkan oleh Paradise Indonesia (INPP) bersama Bina Nusantara di kawasan POJ (Pearl of Java), Marina, menjadi penanda pergeseran arah perkembangan kota—dari pusat yang selama ini terpusat, menuju kawasan baru di pesisir utara. Kawasan ini merupakan bagian dari pengembangan terpadu POJ City, dengan sekitar 9 hektare lahan difungsikan sebagai pusat entertainment dan lifestyle yang terintegrasi dengan ekosistem pendidikan dan kawasan urban sekitarnya.
Arwita Mawarti, S.T, M.T., Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang, memandang kehadiran mal ini di kawasan Pearl of Java (POJ) City sebagai tren ekspansi kota yang positif. Peran INPP tidak berhenti pada pembangunan fisik. Kehadirannya mulai terbaca sebagai penggerak ekosistem urban—menghidupkan kawasan, sekaligus memicu lahirnya pusat-pusat ekonomi baru.
Menurutnya, proyek ini efektif memecah kepadatan pusat kota dan menciptakan pusat ekonomi baru di sisi barat. “Kawasan pesisir utara Kota Semarang yang agraris kini bertransformasi menjadi koridor industri-pariwisata, yang disusul dengan dibukanya akses transportasi umum ke kawasan ini,” ungkapnya pada Sabtu, 4 April 2026.
Jika Arwita menilik dari sisi kebijakan, Ratri Saraswati, S.T., M.T., akademisi arsitektur UPGRIS, menyoroti bagaimana proyek ini mengisi kekosongan identitas Semarang sebagai kota pesisir. Saat ditemui pada 23 Maret 2026, Ratri menambahkan, “Kehadiran 23 Semarang akan melengkapi destinasi wisata pantai yang modern dan ekologis di Semarang. Terlebih, Semarang sendiri merupakan kota di tepi pantai pesisir Utara Jawa, namun belum memiliki destinasi wisata pantai yang lengkap dan modern.”

23 Semarang memecah massanya—menciptakan bangunan yang lebih berpori, lebih bernafas, jauh dari kesan masif. (Foto : Susi W)
Menumbuhkan Ekosistem Ekonomi Lokal
Proyek ini membuktikan komitmen Paradise Indonesia dalam memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Sebagai pengembang yang berpengalaman dalam menciptakan destinasi gaya hidup ikonik, 23 Semarang menjadi mesin penggerak ekonomi baru yang membuka ribuan lapangan kerja, mulai dari masa konstruksi hingga operasional mal nantinya.
Ke depan, akan tumbuh ekosistem ekonomi lokal yang kian dinamis, mulai dari pelaku UMKM, penyedia jasa, hingga sektor informal yang berkembang seiring meningkatnya kunjungan ke kawasan POJ City.
Bukan sekadar peningkatan kunjungan, kawasan ini mulai bertransformasi menjadi simpul aktivitas baru—menghidupkan ekonomi lokal dan menciptakan pergerakan yang sebelumnya tidak ada.
Menjinakkan Iklim Tropis Pesisir
Proyek yang dirancang oleh Aboday Design ini membawa pendekatan yang segar dalam memadukan arsitektur dan lingkungan. Lebih dari sekadar pusat perbelanjaan biasa, 23 Semarang adalah perwujudan ide dari Anthony Prabowo Susilo, Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia, untuk menciptakan sebuah "Jewel of Paradise" di pesisir Jawa Tengah.

23 Semarang sebagai ‘Jewel of Paradise" di pesisir Jawa Tengah (Foto: Susi W)
Berlokasi di sisi utara Semarang, yang berdekatan dengan garis pantai, 23 Semarang menghadapi tantangan suhu udara tinggi khas pesisir. Alih-alih terjebak dalam hawa gerah panas khas pesisir, bangunan ini justru menghadirkan pengalaman ruang yang berbeda. Penggunaan elemen vegetasi dalam skala besar dan elemen air sebagai pendingin alami, menciptakan iklim mikro lebih nyaman bagi pengunjung.
Estetika Terakota dan Delapan Fasad
Akses jalan menuju 23 Semarang dirancang lebar, teduh dan tertata rapi, dinaungi pepohonan yang menciptakan koridor hijau. Sejak pertama mendekat, bangunan mal yang terletak di lahan sudut (hoek) ini langsung mencuri perhatian. Dominasi warna terakota yang hangat membalut gubahan massa bangunan berbentuk oval unik yang dirancang secara tidak masif.
Alih-alih tampil sebagai “kotak raksasa” yang tertutup, 23 Semarang justru memecah massanya—menciptakan bangunan yang lebih berpori, lebih manusiawi, mengundang rasa ingin tahu dan lebih responsif terhadap lingkungan.

Kombinasi bidang segitiga maju-mundur pada fasad, sebagai hiasan dan self-shading, menciptakan bayangan bangunan yang melindungi pengunjung dari sengatan matahari pesisir. (Foto: Susi W)
Kombinasi bidang segitiga maju-mundur pada fasad bukan sekadar hiasan, namun juga berfungsi sebagai self-shading, menciptakan bayangan bangunan yang melindungi pengunjung dari sengatan matahari pesisir. Bangunan ini juga menawarkan pengalaman yang kaya dengan total delapan fasad yang dimilikinya. Empat sisi luar (Utara, Selatan, Barat, Timur) dan empat sisi dalam yang langsung menghadap ke area open space.
Merancang Pergerakan, Bukan Sekadar Ruang
Lebih dari sekadar pusat perbelanjaan, 23 Semarang dirancang sebagai sebuah lifestyle destination—ruang yang merangkum pengalaman perkotaan dalam satu kesatuan, mulai dari aktivitas belanja, interaksi sosial, hingga relaksasi.
Penerapan konsep Circular Mall dengan Double Fasad yang dilengkapi dengan Centre Park, menciptakan alur pengunjung yang intuitif dan efisien. Anthony mengungkapkan, tantangan utama di bangunan ini adalah mengoptimalkan lahannya yang berbentuk kotak dengan menghadirkan alur retail linier yang intuitif. Strategi ini mengoptimalkan customer journey, menghadirkan sirkulasi mengalir tanpa sudut terabaikan, dengan susunan tenant yang mudah diikuti.
Aspek aksesibilitas yang sederhana namun efektif. Akses utama di sisi barat menyambut pengunjung dengan kepraktisan urban, sementara sisi timur menawarkan pengalaman berbeda melalui Plaza Terbuka yang menghadap langsung ke kanal menuju Laut Jawa. (Foto: Susi W)
Aspek aksesibilitas pun dirancang sederhana namun efektif. Akses utama di sisi barat menyambut pengunjung dengan kepraktisan urban, sementara sisi timur menawarkan pengalaman berbeda melalui Plaza Terbuka yang menghadap langsung ke kanal menuju Laut Jawa. Pembagian akses ini tidak hanya memudahkan orientasi pengunjung sejak awal kedatangan, tetapi juga memperkaya pengalaman ruang bagi siapa pun yang melangkah masuk.
Desain drop-off pun dibuat sangat praktis. Kendaraan diarahkan langsung menuju lantai dua mal, memungkinkan pengunjung masuk ke jantung aktivitas tanpa harus melewati lapisan ruang yang panjang. Dari titik ini, pengunjung yang ingin ke lantai satu atau tiga cukup menaiki satu eskalator saja.
Inilah yang disebut Anthony sebagai desain yang "jauh di mata, dekat di hati". Sebuah pendekatan desain yang cermat, menghadirkan kemudahan yang mungkin tidak terlihat dari luar, namun sangat terasa manfaatnya bagi kenyamanan pengunjung.
Forest Inner Court: Jantung Hijau di Tengah Bangunan
Elemen yang paling mencuri perhatian, dan menjadi pembeda utama dari mal konvensional—adalah forest inner court. Lebih dari sekadar atrium, forest inner court menjadi jantung sosial—tempat kehidupan mal terasa lebih bernapas melalui rimbunnya tanaman tropis dan sejuknya kolam air.

23 Semarang memiliki delapan fasad. Empat sisi luar (Utara, Selatan, Barat, Timur) dan empat sisi dalam yang langsung menghadap ke area open space. (Foto: Susi W)
Ruang terbuka ini dilengkapi tangga-tangga berundak ergonomis membentuk amfiteater alami, mengundang orang untuk duduk santai, berbincang atau sekadar berhenti sejenak. Efeknya terasa langsung— pengunjung tidak lagi merasa berada di dalam pusat perbelanjaan, melainkan di ruang publik yang hidup.
Lebih dari sekadar elemen estetika, area ini hadir sebagai ruang sosial inklusif dengan berbagai sudut visual yang memanjakan mata, menjadikan latar yang sempurna untuk mengabadikan momen di media sosial.
Penulis menikmati forest inner court dengan suasana area yang rimbun. Berada di area ini, yang dirasakan bukan sedang di dalam pusat perbelanjaan, melainkan di ruang publik yang hidup. (Foto: Susi W)
Di sisi lain, plaza terbuka yang terhubung dengan kanal menuju laut Jawa menghadirkan pengalaman berbelanja berbeda. Di sini, air bukan sekadar elemen visual, melainkan bagian dari pengalaman ruang yang efektif menurunkan suhu lingkungan. Pantulan cahaya di permukaan air, hembusan angin dari arah laut, dan keterbukaan ruang menciptakan suasana yang lebih rileks dan menyegarkan.
Amfiteater alami, mengundang orang untuk duduk santai, berbincang atau sekadar berhenti sejenak. Pengunjung tidak lagi merasa berada di dalam pusat perbelanjaan, melainkan di ruang publik yang hidup. (Foto: Susi W)
Keberlanjutan sebagai Fondasi Desain
Karakter pesisir Semarang—yang rentan terhadap penurunan tanah dan banjir rob—direspons melalui pendekatan keberlanjutan sebagai bagian tak terpisahkan dalam perancangan 23 Semarang.
Desain arsitekturalnya menjadi manifestasi nyata komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diusung oleh Paradise Indonesia. Sejak tahap perancangan hingga rencana operasional, prinsip keberlanjutan diintegrasikan untuk meminimalkan jejak karbon dan memaksimalkan dampak sosial.
Penerapan skylight di atrium utama memungkinkan pencahayaan alami tanpa meningkatkan panas berlebih. Pendekatan ini juga diperkuat melalui penggunaan teknologi pendinginan modern, sistem RO water management, serta material ramah lingkungan untuk meningkatkan efisiensi energi dan sumber daya.
Penerapan skylight di atrium utama memungkinkan pencahayaan alami tanpa meningkatkan panas berlebih. (Foto: Susi W)
Anthony memaparkan bahwa pendekatan ini mampu meminimalkan konsumsi energi dan sumber daya alam, sembari memberi prioritas pada pemberdayaan masyarakat. "Melalui sirkulasi oval yang dinamis, kolam ikan, dan ruang terbuka hijau, 23 Semarang menghadirkan beragam pengalaman berbelanja baru dengan lingkungan yang berbeda," tuturnya.
Lebih jauh, aspek keberlanjutan tidak hanya menjadi konsep teknis, tetapi juga hadir membentuk pengalaman ruang yang lebih manusiawi—menghadirkan kenyamanan termal dan ruang interaksi inklusif.
Arsitektur yang Tumbuh dari Perilaku Kota
Pendekatan desain 23 Semarang membuktikan bahwa pusat perbelanjaan tidak lagi sekadar tempat konsumsi, tetapi juga bisa bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup dan inklusif.
Di sinilah peran arsitektur, bukan hanya menyediakan ruang, tetapi membentuk cara orang berinteraksi. Karakter orang Semarang yang gemar berkumpul (kongkow), mengobrol santai dan menikmati ruang bersama tanpa sekat kelas sosial yang kaku diwadahi dengan baik, menciptakan pengalaman bersama yang bermakna di tengah kemajuan kota.
Melalui penerapan konsep yang kuat, lokasi strategis, dan komitmen terhadap keberlanjutan, 23 Semarang di POJ City menjadi destinasi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gaya hidup, tetapi juga meningkatkan daya tarik kota Semarang di peta nasional dan internasional.
23 Semarang tidak sekadar bangunan komersial. Kehadirannya menciptakan dampak sosial-ekonomi yang nyata, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkaya lanskap urban Semarang, serta memperkuat daya tarik kota yang lebih terbuka, lebih hijau dan lebih manusiawi.
Hal ini selaras dengan komitmen Paradise Indonesia yang mengusung tagline iconic lifestyle destinations. Properti yang dibangun bukan hanya ikonik secara desain, namun diciptakan untuk mendukung dan menghidupkan gaya hidup masyarakat di sekitarnya. (susi wijayanti)



















