Menelusuri Tren Bangunan Masa Kini: Schneider Electric Dorong Efisiensi Energi Jadi ‘Napas’ Baru Arsitektur
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Minggu, 30 Agustus 2026 06:36
- Ditayangkan: Minggu, 30 Agustus 2026 06:36
- Ditulis oleh adminrumahku
- Cetak
- 30 Agu
Pernahkah terpikir berapa banyak energi yang digunakan sebuah gedung dalam sehari?
Lampu yang terus menyala di ruangan kosong, pendingin udara yang tetap bekerja ketika tidak banyak orang berada di dalam ruangan, hingga berbagai perangkat yang beroperasi tanpa diketahui seberapa besar energi yang digunakannya. Hal-hal kecil seperti ini mungkin luput dari perhatian. Namun, jika terjadi terus-menerus dalam sebuah bangunan, energi yang terbuang tentu tidak lagi sedikit.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim dan biaya energi, cara sebuah bangunan menggunakan energi pun mulai mendapat perhatian lebih besar. Bangunan masa kini tidak cukup hanya nyaman dan menarik secara visual lewat fasad dan estetikanya, tetapi juga harus hemat energi, tangguh menghadapi gangguan, serta ramah lingkungan.
Perubahan cara pandang ini ikut mendorong transformasi di industri arsitektur dan properti. Teknologi digital kemudian hadir bukan sekadar untuk membuat bangunan terlihat modern, tetapi juga membantu pengelola memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.
Bagi Ratri Septina Saraswati, praktisi arsitek yang aktif di Green Building Council Indonesia (GBCI), perubahan tersebut menunjukkan bahwa konsep bangunan hijau kini semakin sulit dipisahkan dari perkembangan arsitektur modern. Menurutnya, perhatian terhadap penggunaan energi seharusnya sudah muncul sejak tahap awal perancangan, bukan baru ketika bangunan mulai beroperasi.
“Menurut saya, bangunan hijau bukan lagi sekadar pilihan atau tren dalam dunia arsitektur. Kita perlu mulai memikirkan bagaimana sebuah bangunan dapat menggunakan energi secara lebih bijak sejak proses perancangannya. Jadi, bukan hanya bagaimana bangunan itu terlihat, tetapi juga bagaimana ia bekerja dan memberi dampak dalam jangka panjang,” ujar Ratri.
Pandangan tersebut membawa kita pada satu persoalan penting: bagaimana memastikan sebuah bangunan benar-benar bekerja secara efisien setelah selesai dibangun? Di sinilah teknologi mulai mengambil peran.
Bangunan yang Bisa “Bercerita”
Sebuah gedung sebenarnya menghasilkan banyak informasi setiap hari. Berapa banyak listrik yang digunakan, kapan konsumsi meningkat, ruangan mana yang paling banyak menggunakan energi, hingga kapan sebuah perangkat mulai menunjukkan pola kerja yang tidak biasa.
Masalahnya, informasi tersebut belum selalu dimanfaatkan secara optimal.
Fakta di lapangan menunjukkan tantangan yang cukup besar. Schneider Electric mencatat sekitar 30% energi di dalam gedung terbuang sia-sia, sementara sekitar 40% inefisiensi operasional sejatinya sudah terbentuk sejak tahap awal perancangan desain.
Pada saat yang sama, bangunan menyumbang sekitar 37% emisi CO₂ global. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya peluang untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari operasional bangunan.
Teknologi digital memungkinkan data yang sebelumnya hanya menjadi angka di meteran listrik berubah menjadi informasi yang lebih mudah dibaca dan ditindaklanjuti.
Caranya dapat dimulai dari hal sederhana, yakni mengukur dan memantau.
Melalui data konsumsi energi bulanan maupun tahunan, pengelola dapat melihat pola penggunaan energi dalam sebuah bangunan. Dari sana, dapat diketahui kapan konsumsi meningkat, bagian mana yang membutuhkan perhatian, serta peluang untuk mengurangi pemborosan.

Efisiensi Bukan Sekadar Mengurangi Pemakaian
Pada titik inilah efisiensi energi memiliki makna yang lebih luas. Mengurangi penggunaan listrik memang penting, tetapi bangunan juga harus tetap mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan keandalan bagi penggunanya.
Reza Syarif, Business Vice President for Buildings, Schneider Electric Indonesia, mengatakan, “Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, tetapi memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna. Hal ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis data, mulai dari memahami kondisi bangunan hingga mengoptimalkan sistem kelistrikan, otomasi, dan pengelolaan operasionalnya.”
Menurutnya, pendekatan berbasis data menjadi semakin penting seiring kompleksitas bangunan yang terus berkembang. Berbagai sistem seperti HVAC, pencahayaan, kelistrikan, keamanan, hingga sumber energi terbarukan kini dapat saling terhubung dan menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja bangunan.
“Melalui kampanye ‘Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien’, Schneider Electric berkomitmen untuk mendorong terciptanya bangunan yang lebih efisien, resilient, sustainable, dan berorientasi pada manusia, baik untuk gedung baru maupun yang sudah ada,” lanjut Reza.
Ketika Bangunan Mulai “Berbicara” Lewat Data
Teknologi Internet of Things (IoT) membuat semakin banyak perangkat di dalam bangunan dapat saling terhubung. Sistem HVAC, kelistrikan, pencahayaan, akses, keamanan, hingga sumber energi terbarukan dapat menghasilkan data yang digunakan untuk memahami kondisi bangunan secara menyeluruh.
Di sinilah konsep smart building mendapatkan relevansinya.
Bangunan cerdas bukan sekadar bangunan yang memiliki banyak perangkat terkoneksi. Yang lebih penting adalah bagaimana data dari perangkat tersebut diolah menjadi informasi dan kemudian digunakan untuk mengambil tindakan.
Melalui EcoStruxure Building Operation, Schneider Electric mengintegrasikan berbagai sistem dan perangkat dalam satu platform manajemen bangunan. Data dari HVAC, kelistrikan, pencahayaan, sistem akses, deteksi kebakaran, hingga sumber energi terbarukan dapat dipantau dari satu pusat kendali.
Dengan sistem seperti ini, bangunan seolah memiliki kemampuan untuk “bercerita” mengenai apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Ketika konsumsi listrik tiba-tiba meningkat, misalnya, pengelola dapat lebih cepat mengetahui adanya perubahan tersebut. Data historis juga dapat membantu menemukan pola yang tidak biasa, yang bisa menjadi tanda awal adanya masalah pada peralatan.
Dari Data Menjadi Keputusan
Mengumpulkan data saja tentu belum cukup. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat data tersebut berguna.
Melalui dashboard, alarm, dan perangkat analitik, informasi dalam jumlah besar dapat disederhanakan menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami.
Pengelola tidak harus menunggu tagihan listrik datang di akhir bulan untuk mengetahui adanya pemborosan. Konsumsi energi dapat dipantau secara lebih dekat, sementara perubahan yang tidak normal bisa mendapatkan perhatian lebih cepat.
Pendekatan tersebut juga membantu pemeliharaan perangkat. Jika pola konsumsi menunjukkan adanya sesuatu yang tidak biasa, pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal sebelum gangguan berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya membantu menghemat energi, tetapi juga menjaga usia dan keandalan aset bangunan.
Teknologi yang Bekerja Diam-Diam
Menariknya, sebagian besar teknologi tersebut mungkin tidak pernah terlihat oleh penghuni gedung.
Orang yang datang ke kantor, hotel, rumah sakit, atau pusat perbelanjaan mungkin hanya merasakan ruangan yang nyaman, pencahayaan yang sesuai, atau suhu yang tidak terlalu panas maupun dingin.
Di balik pengalaman tersebut, ada sistem yang terus bekerja.
Sensor membaca kondisi ruangan. Sistem memantau konsumsi energi. Perangkat saling bertukar informasi. Sementara itu, pengelola mendapatkan gambaran mengenai kondisi bangunan melalui satu sistem yang terintegrasi.
Inilah yang membuat konsep bangunan cerdas berbeda dari sekadar bangunan yang dipenuhi perangkat digital. Kecerdasannya justru terletak pada kemampuan berbagai sistem untuk bekerja bersama dan menghasilkan keputusan yang lebih tepat.
Menuju Bangunan yang Lebih Adaptif
Perkembangan teknologi juga membuat bangunan semakin siap menghadapi kebutuhan di masa depan. Integrasi dengan perangkat IoT, kecerdasan buatan, dan machine learning membuka peluang bagi sistem bangunan untuk menjadi semakin adaptif.
Bangunan dapat belajar dari data penggunaan sebelumnya untuk membantu memprediksi kebutuhan energi, mengenali pola yang tidak normal, hingga mendukung pemeliharaan yang lebih proaktif.
Bagi Schneider Electric, pendekatan tersebut terangkum dalam gagasan bangunan yang hyper-efficient, resilient, sustainable, dan people-centric.
Artinya, bangunan tidak hanya dituntut menggunakan energi secara efisien, tetapi juga tetap andal ketika menghadapi gangguan, lebih berkelanjutan dalam penggunaan sumber daya, serta memberikan kenyamanan bagi manusia yang berada di dalamnya.
Ketika Efisiensi Bisa Terlihat dari Angka
Gambaran mengenai manfaat pendekatan ini dapat dilihat dari penerapan Building Management System (BMS) di SMC RS Telogorejo, Semarang.
Melalui platform EcoStruxure Building Operation, rumah sakit mengintegrasikan pemantauan utilitas penting seperti HVAC, kelistrikan, dan UPS dalam satu command center.
Pengelolaan yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara manual kemudian dilengkapi dengan pemantauan real-time dan peringatan otomatis.
Hasilnya, pengeluaran listrik rumah sakit turun 5% pada 2025. Waktu respons teknis terhadap anomali juga menjadi 60% lebih cepat, sementara kondisi suhu dan kelembapan di ruang operasi dapat dipantau secara lebih konsisten.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju bangunan yang efisien tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Langkah awalnya bisa sesederhana memahami bagaimana energi digunakan.
Sebab, ketika sebuah bangunan mulai mampu membaca datanya sendiri, pengelola memiliki kesempatan untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki, kapan harus bertindak, dan bagaimana menggunakan energi secara lebih tepat.
Teknologi cerdas bukan sekadar membuat bangunan semakin digital. Lebih dari itu, teknologi membantu bangunan menjadi lebih peka terhadap kebutuhannya sendiri—menggunakan energi ketika diperlukan, mengurangi yang terbuang, menjaga kenyamanan penghuninya, dan bersiap menghadapi tuntutan masa depan.
Bangunan pun tak lagi sekadar menjadi tempat manusia beraktivitas. Dengan teknologi yang tepat, ia bisa menjadi ruang yang lebih hemat, lebih adaptif, dan lebih bijak dalam menggunakan sumber daya.(susi wijayanti)
#TeknologiCerdasGedungEfisien